Minggu, 25 Mei 2014

masih tak mau madu lagi ??

ingat satu tahun lalu artikel q tentang madu ?
banyak orang yang menginginkannya  tapi tak mendapatkannya, sedangkan orang yang tak menginginkannya namun harus tetap memakannya.
masih bingung setelah di dalam mulut bagaimana rasanya ? masih tetap masam atau sudah berubah menjadi manis ?
di saat madu itu akan habis, hanya tersisa dilidah ternyata q baru sadar bahwa madu itu manis. ter;ambat ? tidak... aku tidak akan menyesal akan keterlambatan ini. aku sangat bahagia, setidaknya aku bisa merasakan manisnya madu itu. terimakasih buat temen-temenku yang telah memberiku warna indah melebihi warna pelangi dalam hidupku.
terimakasih teman-teman UKM PIK Mahasiswa....

Sabtu, 24 Mei 2014

cerita tentang sahabat


Dusun cinta.
Sebuah harapan akan jalinan persahabatan yang indah pada waktunya. Ada sejuta canda disana diselingi kisah sedih dan mencekam yang terbawa di dalamnya. Namun semua itu menghimpun sebuah spirit persaudaraan dan persahabatan yang mampu menembus ruang dan waktu. Lalu cerita itupun akan terpatri ke dalam buku harian yang tersampul indah memenuhi kehidupan kita.
Berawal dari

dusun cinta STKIP PGRI Tulungagung


Senin, 14 April 2014

dusun cinta


impianku adalah harapanku


Durenan, 28 Februari 2013

 

Artikelku kali ini sama seperti sebelumnya, tentang kehidupanku yang sedang aku alami saat ini. Mungkin bila berfikir lebih jauh lagi kenapa aku memposting artikel ini jawabannya adalah karena aku kesepian, aku nggak tau dengan siapa aku harus bercerita. Memalukan sich bila banyak orang yang tau kelemahan dan juga keburukanku, tapi semoga saja yang tau bukan orang yang saat ini aku kenal atau mungkin akan aku kenal.

        Heemmm... sewaktu anda masih kecil pernahkah anda punya cita-cita? Jawabnya pasti pernah. Yang ingin saya tanyakan saat ini masihkah anda ingat cita-cita anda sewaktu kecil? Masihkah anda memperjuangkannya sekarang? Saya tau, semua anak kecil pasti punya cita-cita, believe it. entah itu sepele atau luar biasa seperti ingin menjadi Superman, Batman, Spiderman, atau bahkan menjadi Presiden. Konyol memang, padahal saat itu mereka belum tau apa itu Batman, Superman, Spiderman, dan juga Presiden, yang mereka tau hanyalah “aku ingin menjadi seperti itu”. Mereka juga belum tau bagaimana cara menjadi seperti itu. Berfikir sederhana dengan kepolosannyalah yang membuat hari-hari mereka semakin indah. Lambat laun mereka semakin besar, mereka juga semakin mengerti akan cita-citanya. Dan pada saat tertentu itulah keputusan akan segera diambil, mewujudkannya? Atau hanya menjadikannya angan belaka? It’s the choose.

        Aku masih ingat dengan jelas apa saja cita-citaku sewaktu kecil, ya... cita-citaku nggak Cuma satu. Menjadi power ranger adalah salah satu cita-citaku. Whahaha sepertinya menarik, dengan menjadi power ranger aku bisa melindungi orang-orang yang aku sayang dan aku bisa melindungi dunia ini dari kehancuran, bisa melawan monster-monster jahat yang siap berperang. Dan sekarang aku tau, aku nggak mungkin menjadi seorang power ranger yang bisa berubah setiap saat, yang bisa membasmi monster-monster jahat karena itu nggak mungkin, meskipun mungkin terjadi aku juga nggak mau bumi ini dipenuhi dengan monster-monster jahat seperti adegan di film-film yang sering aku tonton sewaktu kecil.  Meskipun cita-cita itu nggak mungkin, setidaknya tanpa menjadi seorang power ranger aku masih bisa menjadi pelindung untuk orang-orang yang aku sayangi ( aku akan berusaha) ya meskipun faktanya merekalah yang lebih sering melindungiku. Hehehe

        Dan cita-cita selanjutnya yang masih aku ingat sampai sekarang dan merupakan cita-cita yang realistis yaitu AKU INGIN MENJADI SEORANG GURU. Sampai detik ini aku masih ingin menjadi seorang guru, sangat ingin menjadi seorang guru. Aku berjanji, aku pasti akan menjadi seorang guru. ^.^

Sewaktu kecil, yang aku tau menjadi seorang guru hanyalah mengajar di depan murid-murid kita. Hal yang menurutku menyenangkan saat itu tanpa harus tau bagaimana sesungguhnya menjadi guru dan bagaimana cara untuk menjadi seorang guru. Aku nggak tau apa pun.

        Saat usiaku menginjak remaja, aku mulai bimbang apa yang harus aku lakukan. Aku sadar penghasilan orang tuaku berapa, aku bisa sekolah di salah satu SMK saja sudah sudah sangat beruntung. Di sisi lain cita-citaku mengharuskanku untuk melanjutkan kuliah. Aku masih ingat benar bagaimana respon orang tuaku saat ku utarakan niatku ingin kuliah dan menjadi guru. Ya, jelas saja ditolak mentah-mentah. Saat itu aku masih kelas 1 SMK. Singkat cerita, dengan perjuangan keras dan juga air mata yang tak henti-hentinya mereka luluh juga tepat saat aku lulus SMK. Waw... kebahagiaan yang luar biasa. Alhamdulillah. Dan akhirnya dengan keringat orang tuaku aku bisa masuk disalah satu kampus di kota Tulungagung. Bukan termasuk kampus yang bergengsi ataupun mahal sich. Namun aku sangat bersyukur. Banyak cerita hidupku yang aku peroleh dari sana. Banyak orang-orang hebat yang aku jumpai. Banyak ilmu yang aku dapat. Dan banyak pula tirai kegelapan yang telah aku sibak. Terimakasih.. alhamdulillah..

        Menjadi seorang guru, kenapa aku ingin menjadi seorang guru? Kenapa ya? Aku nggak tau. Karena ingin mencari hidup baru mungkin. Karena ingin seperti saudara-saudaraku mungkin. Karena tidak mau dilecehkan terus oleh tetanggaku mungkin, atau karena pekerjaan menjadi guru itu mulia? Tidak, tidak, tidak. Bukan itu. Lantas apa? Karena bagiku menjadi seorang guru itu adalah salah satu hal yang terindah. Aku masih tetap bisa berada disekolah dan bertemu dengan anak-anak yang ajaib, yang akan melakukan hal-hal konyol untuk hidup mereka. Karena berada disekolah aku akan bisa melihat banyak senyum indah disetiap anak. Karena menjadi seorang guru aku akan terus belajar tanpa harus membayar sekolah. Hehehe. Karena dengan menjadi guru aku bisa membantu anak-anak belajar yang entah kapan mereka pasti akan menjadi orang hebat. Suatu kebanggaan tersendiri bahwa orang hebat itu adalah muridku dahulu. Karena dengan menjadi guru bila aku sudah berkeluarga, aku tak harus membebankan semuanya kepada imamku tanpa menyampingkan kewajiban dirumah. Karena dengan menjadi guru hanya menyita seperempat waktuku dalam sehari yang berarti aku masih punya waktu untuk keluargaku. Karena dengan menjadi guru adalah harapannya. Harapan nenekku juga.

Aku akan selalu berjuang dengan segala keringat dan doa. Terimakasi ku ucapakan untuk nenekku, untuk kedua orang tuaku, untuk kakakku, dan untuk semuanya yang memberikanku kekuatan. Terimakasih

cek

lama nggak dipake ternyata dah ngambek ma q ni blogger

Minggu, 18 Agustus 2013

surat cinta untuk calon imamku

Duhai calon imamku,
Apa kabarmu hari ini ? sudahkah engkau ucapakan selamat pagi dan bersyukur ? karenan masih diberi kesempatan melihat dunia yang fana ini ?!

Duhai calon imamku,
Disini aku sedang mengalami kegalauan dalam menyikapi sebuah kehidupan dan kesiapan diriku dalam mendampingimu kelak sampai sisa umurku. Akankah aku bilang IYA dan menerima pinanganmu ataukah aku harus bilang TIDAK dan menolak dirimu ?!

Duhai calon imamku,
Dalam kebimbangan ini aku sering bertanya-tanya, kenapa Allah mengujiku tepat pada hati ini? Bagian terapuh dalam diriku. Tapi sekarang aku tau jawabannya .
Karena Allah terlalu mencintaiku. Agar aku selalu ingat pada-Nya. Agar aku selalu mencintai-Nya. Agar aku selalu bersyukur pada-Nya.
Aku yakin, Allah tidak akan memberi sesuatu yang aku inginkan, tapi Dia akan selalu memberi apa yang aku butuhkan.

Duhai calon imamku,
Jujurlah padaku bagaimana perasaanku terhadapku ? akankah engkau masih mencintaiku ?
Mungkin ini akan terlihat konyol tapi aku akan cemburu bila engkau mencintai perempuan lain selain diriku. Tapi aku tidak akan cemburu bila cintamu kepadaku tidak sebesar cintamu kepada-Nya

Duhai calon imamku,
Harus kamu tau, aku bukanlah perempuan yang terbaik untukmu, tapi aku akan mencoba menjadi istri yang terbaik untuk mujahid-mujahid kecil kita, untukmu, dan untuk keluarga kita.

Duhai calon imamku,
Aku bukanlah perempuan yang jago memasak, maafkanlah aku bila suatu saat masakanku tak baik untuk dihidangkan tapi aku akan berusaha untuk menjadi koki terbaik dalam keluarga

Duhai calon imamku,
Aku bukanlah perempuan cantik yang pintar bersolek seperti teman-temanku. Tapi aku akan berusaha selalu menghias wajahku dengan senyumku.

Duhai calon suamiku,
Bila suatu saat aku tidak mengindahkan perintahmu, tegur aku. Karena aku bukanlah perempuan sempurna yang sering lalai membangun keluarga kita. Maafkanlah aku atas semua tingkah lakuku yang mungkin belum dewasa. Bimbing aku menuju kedewasaan itu.

Duhai calon imamku,
Bila aku memilihmu karena ketampananmu, mungkin aku akan meninggalkanmu bila sudah tak tampan lagi
Bila aku memilihmu karena kekayaanmu, mungkin aku akan meninggalkanmu bila kau sudah tak kaya lagi

Duhai calon imamku,
Aku memilih dirimu bukan karena kekayaanmu juga ketampananmu, tapi karena hatimu. . .          


Duhai calon imamku,
Katanya perempuan itu adalah rusuk dari kaum hawa. Kenapa rusuk dan bukan tengkorak kepala? Kenapa rusuk dan bukan tulang kaki ?
Bukan tengkorak kepala karena perempuan derajatnya tidak akan melebihi sang suaminya
Dan bukan pula tulang kaki karena perempuan tidaklah serendah itu.
Namun tulang rusuk yang tempatnya di dada, dekat hati yang penuh dengan perasaan.
Oleh karena itu jika engkau marah kepadaku duhai calon imamku, aku harap jangan kasari aku. . jika engkau paksa lurus tulang rusuk tersebut maka bukanlah kebaikan yang engkau peroleh. Namun keretakanlah yang akan menghampirinya.

Duhai calon imanku,
Ku menantikanmu meminangku dari ayahku
                                            

Sabtu, 13 Juli 2013

beban baru

cerita dikit tentang hidupq

pernahkan anda menginginkan gula manis tapi malah mendapatkan madu ? padahal anda tidak menyukai madu.
apa yang harus anda lakukan bila madu tersebut sudah masuk kedalam mulut anda?
opsi pertama "ditelan"
opsi kedua "di muntahkan" ataukah
opsi ketiga "dinikmati"

 mungkin peristiwa itulah yang sedang saya alami. . .
saya tidak menginginkan madu tersebut meskipun banyak yang mengincar, namun terlanjur di dalam mulut.
dengan terpaksa saya harus merasakannya. bukan, bukan terpaksa. saya sadar dalam merasakan ini tidak boleh ada keterpaksaan, harus menikmati. mungkin itulah tindakan yang paling tepat saya lakukan.

beban di pundak ini, tanggung jawab di tangan ini, title di dada ini . . . adalah awal coretan dalam hidupku. berharap aku tidak akan mengabaikan kepercayaan teman"q, tak akan menghancurkan organisasi ini, tak akan membuat lubang baru. dan berharap satu tahun kedepan cepat berlalu dengan damai. amiinnnn....

Selasa, 09 April 2013

Hakikat keragaman dan kesetaraan manusia sebagai kekayaan sosial budaya

Hakikat keragaman dan kesetaraan manusia sebagai kekayaan sosial budaya
Makalah ini disusun untuk tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar

Dosen Pembimbing Abdul Roziq Asrori, Msi.


Disusun oleh :

Any Setyawati
Dessy Lianawati
Partiyah
Laili Chusna
Laili Masruroh
Pipit Sri Wahyuningsih
F Dewanti Novitasari
(11187203004)
(11187202006)
(11187203010)
(11187202025)
(11187203027)
(11187203028)
(11187203031)




Program Studi Pendidikan Ekonomi Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan ( STKIP ) PGRI Tulungagung
April 2013
Kata Pengantar

            Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat-Nya. Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul “Hakikat Keragaman dan Kesetaraan Manusia sebagai Kekayaan Sosial Budaya”
Penyusunan makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam Materi Kuliah Bimbingan dan Konseling dalam Program Studi Pendidikan Ekonomi di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung.
            Penyusun menyadari bahwa berkat bantuan dari berbagai pihak, maka makalah ini dapat tersusun, untuk itu maka penulis sampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada:
1.         Drs. Djoko Edi Yuwono, M.M, Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Tulungagung, yang telah memberikan izin pembuatan makalah ini.
2.         Drs. Imam Sujono, M.M, Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi.
3.         Abdul Roziq Asrori, Msi., Dosen mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar, yang telah membimbing dalam penyusunan makalah ini.
4.         Mahasiswa Program Studi Ekonomi kelas 4A  tahun 2013, yang turut aktif membantu dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas wawasan. Yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu dating dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  saya  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  saya  di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.












Tulungagung,  April 2013


Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                                                                       ii
Daftar Isi                                                                                                                                 iv

BAB I : PENDAHULUAN                                                                                                  
A         Latar Belakang Masalah                                                                                             1
B         Rumusan Masalah                                                                                                       2
C         Tujuan Penulisan                                                                                                         2

BAB II : KAJIAN TEORI                                                                                                    
A.        Hakikat Keragaman dan Kesetaraan Manusia                                                               3
B.        Kemajemukan dalam Dinamika Sosial Budaya                                                             4
C.        Keragaman dan Kesetaraan sebagai Kekayaan Sosial Budaya Bangsa                         7
D.            Problematika Keragaman dan Kesetaraan dalam Kehidupan Masyarakat dan Negara 8

BAB III : PENUTUP                                                                                                            
 A.       Kesimpulan                                                                                                                   12
Daftar Pustaka                                                                                                                                      14

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam paham multikulturalisme, kesederajadan, dan atau kesetaraan sangat dihargai untuk semua budaya yang ada dalam masyarakat. Paham ini sebetulnya merupakan bentuk akomodasi dari budaya arus utama (besar) terhadap munculnya budaya-budaya kecil yang datang dari berbagai kelompok. Itulah sebabnya, penting sekarang ini membahas keragaman dan kesetaraan dalam hidup manusia. Untuk konteks Indonesia sebagai masyarakat majemuk, sehubungan dengan pentingnya ketiga hal tersebut : manusia, keragaman, dan kesetaraan, tatkala berbicara tentang keragaman, hal itu mesthi dikaitkan dengan kesetaraan. Mengapa? Karena keragaman tanpa kesetaraan akan memunculkan diskriminasi : kelompok etnis yang satu bisa memperoleh lebih dibanding yang lain; atau kelompok umur tertentu bisa mempunyai hak-hak khusus atas yang lainnya. Keragaman yang didasarkan pada kesetaraan akan mampu mendorong munculnya kreativitas, persaingan yang sehat dan terbuka, dan pada akhirnya akan memacu kesaling-mengertian. Perkembangan pembangunan yang terjadi dalam dua dekade terakhir di Indonesia menjadikan pertemuan antar orang dari berbagai kelompok suku dan budaya sangat mudah terjadi. Hal itu tentu saja akan menimbulkan banyak goncangan dan persoalan. Karena itu sebelum menjadi sebuah konflik yang keras, Indonesia sudah selayaknya mempersiapkan  masyarakatnya mengenai adanya keragaman. Keragaman itu supaya menghasilkan manfaat besar harus diletakkan dalam bingkai kebersamaan dan kesetaraan. Namun, sebelum membahas mengenai bagaimana memahami keragaman dan kesetaraan dan juga bagaimana mengelola keragaman yang ada dengan segala persoalan dan tantangannya, pembahasan akan dimulai dengan memusatkan perhatian pada manusia itu sendiri. Dalam perkembangan konteks kehidupan bermasyarakat yang terjadi secara cepat dan dramatis seringkali muncul ketegangan antara individualitas dan sosialitas. Bagaimana seorang manusia yang senantiasa berusaha mencari identitas diri harus melakukan akomodasi terhadap masyarakatnya yang juga terus berubah. Manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat dikitari oleh berbagai hal yang menjadikannya selalu berada dalam ketegangan antara diri sendiri dan orang lain. Praktis komunikasi, sejarah yang melingkupinya, keberadaan orang lain, konsep mengenai masalalu, mas kini, dan mas depan juga merupakan hal-hal yang terus perlu dipertimbangkan ketika manusia menjalani hidupnya, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sebuah masyarakat.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah “Hakikat Keragaman dan Kesetaraan Manusia sebagai Kekayaan Sosial Budaya” adalah sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah hakikat keragaman dan kesetaraan manusia
2.    Bagaimanakah kemajukan dalam dinamika sosial budaya
3.    Bagaimanakah keragaman dan kesetaraan sebagai kekayaan sosial budaya bangsa
4.    Apa sajakah problematika keragaman dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat dan negara

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah “Hakikat Keragaman dan Kesetaraan Manusia sebagai Kekayaan Sosial Budaya” adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui tentang hakikat keragaman dan kesetaraan manusia
2.      Untuk mengetahui tentang kemajemukan dalam dinamika sosial budaya
3.      Untuk mengetahui tentang keragaman dan kesetaraan sebagai kekayaan sosial budaya bangsa
4.      Untuk mengetahui problematika keragaman dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat dan negara



BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Hakikat Keragaman dan Kesetaraan Manusia
Keragaman adalah suatu  kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaaan2 dalam berbagai bidang (masyarakat yang majemuk). Keragaman dalam masyarakat adalah sebuah keadaaan yang menunjukkan perbedaan yang cukup banyak macam atau jenisnya dalam masyarakat. Unsur keragamannya dapat dilihat dalam suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi dan politik, tata karma, kesenjangan ekonomi, dan kesenjangan sosial. Semua unsur tersebut merupakan hal yang harus dipelajari agar keragaman tersebut tidak membawa dampak yang buruk bagi kehidupan bermasyarakat.
Sedangkan kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk tuhan yang memiliki tingkatan atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama bersumber dari pandangan bahwa semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain, dihadapan tuhan , semua manusia adalah sama derajat, kedudukan atau tingkatannya yang membedakannya adalah tingkat ketaqwaan manusia tersebut terhadap tuhan.
Manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu berkaitan dengan konsep kesetaraan dan keragaman. Konsep kesetaraan (equity) bisa dikaji dengan pendekatan formal dan pendekatan substantif. Pada pendekatan formal kita mengkaji kesetaraan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku, baik berupa undang-undang, maupuin norma, sedangkan pendekatan substantif mengkaji konsep kesetaraan berdasarkan keluaran / output, maupun proses terjadinya kesetaraan. Konsep kesetaraan biasanya dihubungkan dengan gender, status sosial, dan berbagai hal lainnya yang mencirikan perbedaan-perbedaan serta persamaan-persamaan. Sedangkan konsep keragaman merupakan hal yang wajar terjadi pada kehidupan dan kebudayaan umat manusia. Kalau kita perhatikan lebih cermat, kebudayaan Barat dan Timur mempunyai landasan dasar yang bertolak belakang. Kalau di Barat budayanya bersifat antroposentris (berpusat pada manusia) sedangkan Timur, yang diwakili oleh budaya India, Cina dan Islam, menunjukkan ciri teosentris (berpusat pada Tuhan.Dengan demikian konsep-konsep yang lahir dari Barat seperti demokrasi, mengandung elemen dasar serba manusia, manusia-lah yang menjadi pusat perhatiannya. Sedangkan Timur mendasarkan segala aturan hidup, seperti juga konsep kesetaraan dan keberagaman, berdasarkan apa yang diatur oleh Tuhan melalui ajaran-ajarannya.
Penilaian atas realisasi kesetaraan dan keragaman pada umat manusia, khususnya pada suatu masyarakat, dapat dikaji dari unsur-unsur universal kebudayaan pada berbagai periodisasi kehidupan masyarakat.Sehubungan dengan itu Negara kebangsaan Indonesia terbentuk dengan ciri yang amat unik dan spesifik. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Yunani, yang menjadi suatu negara bangsa karena kesamaan bahasa. Atau Australia, India, Sri Lanka, Singapura, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan daratan. Atau Jepang, Korea, dan negara-negara di Timur Tengah, yang menjadi satu negara karena kesamaan ras. Indonesia menjadi satu negara bangsa meski terdiri dari banyak bahasa, etnik, ras, dan kepulauan. Hal itu terwujud karena kesamaan sejarah masa lalu; nyaris kesamaan wilayah selama 500 tahun Kerajaan Sriwijaya dan 300 tahun Kerajaan Majapahit dan sama-sama 350 tahun dijajah Belanda serta 3,5 tahun oleh Jepang.

B.     Kemajemukan dalam Dinamika Sosial Budaya
Keragaman atau kemajemukan dalam masyarakat selalu membawa perubahan dan perkembangan atau dinamika sehingga masyarakat menjadi dinamis. Kemajemukan dalam masyarakat dibedakan ke dalam dua hal yang saling berkaitan, yaitu:
  1. Kemajemukan Sosial
Kemajemukan social, berkaitan dengan relasi antar orang atau antar kelompok dalam masyarakat. Misalnya : perbedaan jenis kelamin, asal usul keluarga atau kesukuan, perbedaan ideology atau wawasan berpikir, perbedaan kepemilikan barang-barang atau pendapatan ekonomi. Kemajemukan social dapat dibedakan dalam 3 hal penting :
a.        Perbedaan Gender atau Seksualitas
Gender merupakan kerangka social yang diciptakan manusia untuk membedakan laki-laki dan dan perempuan. Kerangka social ini tidak dibangun secara ilmiah tetapi dibangun berdasarkan prasangka yang berkembang dalam masyarakat, misalnya perempuan selalu diidentikkan dengan manusia yang lemah dan cengeng, oleh karenanya wajar jika perempuan tidak diperbolehkan menjadi pemimpin dalam masyarakat. Padahal, tidak selalu setiap perempuan adalah seperti yang dibuat dalam kerangka gender tersebut. Sementara itu seksualitas adalah pembeda karena jenis kelamin. Karena perbedaan seks bersifat kodrati, maka yang bisa melahirkan dan menyusui hanyalah perempuan.
b.      Perbedaan Etnisitas, kesukuan, dan asal-usul keluarga
Dalam masyarakat kuno nama seseorang kadang menunjukkan derajat kebangsawanan mereka. Tetapi masyarakat modern sekarang ini tidak lagi mengaitkan nama dengan nama desa asal, tapi tergantung dari keluarga masing-masing pemilik nama. Sekarang banyak orang mengambil nama dari suku lain, bahkan bangsa lain yang tidak punya ikatan sama sekali. Terlepas dari perubahan apapun yang terjadi, etnisitas, kesukuan, dan asal-usul keluarga merupakan cirri pembeda seseorang, kendatipun kemurniannya mulai menipis lantaran frekuensi perkawinan campur antar antarsuku mulai meningkat.
c.       Perbedaan Ekonomi
Perbedaan ini paling mudah dilihat, yang dalam terminology Marxisme tampak sebagai perbedaan kelas social (golongan kaya-miskin), yang sering menimbulkan ketegangan dan konflik antar golongan.   
  1. Kemajemukan Budaya
Kemajemukan budaya, berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani hidup. Misalnya: cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah, perbedaan dalam menerapkan pola pengelolan keluarga; atau singkatnya dapat disebutkan bagaimana seseorang memandang dunia, masyarakat dan kehidupan di dalamnya.
Keragaman atau kemajemukan merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan dalam kehidupan di masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di waktu-waktu mendatang sebagai fakta,  keragaman sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun bisa juga menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik.
Keragaman budaya sangat erat kaitannya dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani hidup semisalnya cara menjalani hidup, cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah sebagai ekspresi keyakinan kepada Tuhan, cara memandang dunia, masyarakat beserta kehidupan di dalamnya. Contohnya : mengapa ada orang yang percaya dan memilih dukun untuk mengatasi masalah kesehatan, bukannya mencari dokter. Demikian pula dalam hal mendidik anak dalam keluarga. Ada yang menekankan bahwa berselisih pendapat dengan orang lain itu dianggap tidak sopan  dan mengggangu ketentraman. Karena itu, ada keluarga yang mendidik untuk tidak membantah orang lain. Keluarga ini ketika mendapat seorang aak kecil berdepat dengan orang tuanya merasa bahwa anak tersebut tidak sopan, kurang pendidikan, bahkan nakal dan kuarang ajar. Hal ini menimbulkan persoalan bagi keluarga yang tidak menekankan pendidikan bahwa anak harus penurut.
Keragaman budaya juga menjadi persoalan ketika dikaitkan dengan perbedaan sosial. Munculah pandangan stereotip yaitu pandangan tentang sekelompok orang yang didefinisikan karakternya kedalam grup. Pandangan tersebut bisa bersifat positif atau negatif. Sebagai contoh, suatu bangsa dapat distereotipkan sebagai bangsa yang ramah atau tidak ramah.
Biasanya ciri-ciri dalam stereotip kebanyakan negatif, seperti cara bicara dan perilaku orang batak kasar, cara bicara dan perilaku orang jawa lamban, orang cina pelit dan orang madura suka berkelahi. Sejarah juga menjelaskan bahwa perbedaan budaya dan stereotip telah menimbulkan banyak persoalan. Sindiran atau pelecehan tehadap budaya pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia seperti budaya atau orang tertentu sudah di cap buruk. Karena itu dalam sejarah pernah terjadi pertobatan budaya. Penginjilan dan atau dakwah dari agama tertentu pada masa lampau mencerminkan pandangan yang menganggap bahwa suatu budaya tertentu lebih rendah dari budaya lain misalnya dalam konteks kekristenan sejarah pengijilan selalu terkait dengan perendahan dan pelecehan budaya bahwa semua orang harus bertobat dan masuk agama kristen yang baru dan menyelamatkan. Istilah budaya yang tinggi merupakan milik keraton yang dipertentagkan dengan kebudayaan rakyat, milik orang biasa dan miskin merupakan bentuk upaya membedakan sekaligus sindiran dan pelecehan antara suatu budaya dengan yang lain. Sekarang ini muncul budaya global yang datang dari barat dan negara maju berhadapan dengan budaya lokal. Budaya global tersebut  memberikan dampak positif dan negatif bagi budaya lokal.

C.    Keragaman dan Kesetaraan sebagai Kekayaan Sosial Budaya Bangsa
Keragaman bangsa terutama karena adanya kemajemukan etnik, disebut juga suku bangsa atau suku. Beragamnya etnik di Indonesia menyebabkan banyak ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan pranata kebudayaan lainnya karena setiap etnis pada dasarnya menghasilkan kebudayaan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultur artinya memiliki banyak budaya.
Etnik atau suku merupakan identitas sosial budaya seseorang. Artinya identifikasi seseorang dapat dikenali dari bahasa, tradisi, budaya, kepercayaan, dan pranata yang dijalaninya yan gbersumber dari etnik dari mana ia berasal. Namun dalam perkembangan berikutnya, identitas sosial budaya seseorang tidak semata-mata ditentukan dari etniknya. Identitas seseorang mungkin ditentukan dari golongan ekonomi, status sosial, tingkat pendidikan, profesi yang digelutinya, dan lain-lain. Identitas etnik lama-kelamaan bisa hilang, misalnya karena adanya perkawinan campur dan mobilitas yang tinggi.
Kemajemukan adalah karakteristik sosial budaya Indonesia. Selain kemajemukan, karakteristik Indonesia yang lain adalah sebagai berikut (Sutarno, 2007) :
1.       Jumlah penduduk yang besar
2.      Wilayah yang luas
3.      Posisi hilang
4.      Kekayaan alam dan daerah tropis
5.      Jumlah pulau yang banyak
6.      Persebaran pulau
Kesetaraan atau kesederajatan menunjuk pada adanya persamaan kedudukan, hak dan kewajiban sebagai manusia. Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata-pranata sosial, terutama pranata hukum, yang merupakan mekanisme kontrol yang secara ketat dan adil mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip-prinsip kesetaraan dalam kehidupan nyata. Kesetaraan derajat individu melihat individu sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial yang menempel pada dirinya berdasarkan atas asal rasial, sukubangsa, kebangsawanan, atau pun kekayaan dan kekuasaan.
Pengakuan akan prinsip kesetaraan dan kesedarajatan itu secara yuridis diakui dan dijamin oleh negara melalui UUD’45. Warga negara tanpa dilihat perbedaan ras, suku, agama, dan budayanya diperlakukan sama dan memiliki kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan negara Indonesia mengakui adanya prinsip persamaan kedudukan warga negara. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam Pasal 27 ayat (1) UUD’45 bahwa “segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.
Dinegara demokrasi, kedudukan dan perlakuan yang sama dari warga Negara merupakan ciri utama sebab demokrasi menganut prinsip persamaan dan kebebasan. Persamaan kedudukan di antara warga Negara, misalnya dalam bidang kehidupan seperti persamaan dalam bidang politik, hukum, kesempatan, ekonomi, dan sosial.

D.    Problematika Keragaman dan Kesetaraan dalam Kehidupan Masyarakat dan Negara
1.      Problem Keragaman Serta Solusinya Dalam Kehidupan
Masyarakat majemuk atau masyarakat yang beragam selalu memiliki sifat-sifat dasar sebagai berikut :
a.       Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang sering kali memiliki kebudayaan yang berbeda.
b.      Memiliki strutkutr sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer.
c.       Kurang mengembangkan consensus di antara para anggota masyarakat tentan nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.
d.       Secara relatif, sering kali terjadi konflik di antara kelompok yang satu dengan yang lainnya.
e.       Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi.
f.       Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.

Keragaman adalah modal, tetapi sekaligus potensi konflik. Keragaman budaya daerah memang memperkaya khazanah budaya dan menjadi modal yang berharga untuk membangun Indonesia yang multicultural. Namun, kondisi aneka budaya itu sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan kecemburuan sosial.
Konflik atau pertentangan sebenarnya terdiri dari dua fase, yaitu fase disharmoni dan fase disintegrasi. Disharmoni menunjuk pada adanya perbedaan pandangan tentang tujuan, nilai, norma, dan tindakan antarkelompok. Disintegrasi merupakan fase di mana sudah tidak dapat lagi disatukannya pandangan, nilai, norma, dan tindakan kelompok yang menyebabkan pertentangan antarkelompok.
Konflik horizontal yang terjadi bukan disebabkan oleh adanya perbedaan atau keragaman itu sendiri. Adanya perbedaan ras, etnik, dan agama tidaklah harus menjadikan kita bertikai dengan pihak lain. Yang menjadi penyebab adalah tidak adanya komunikasi dan pemahaman pada berbagai kelompok masyarakat dan budaya lain, inilah justru yang dapat memicu konflik. Kesadaranlah yang dibutuhkan untuk menghargai, menghormati, serta menegakkan prinsip kesetaraan atau kesederajatan antar masyarakat tersebut. Satu hal yang penting adalah meningkatkan pemahaman antar budaya dan masyarakat yang mana sedapat mungkin menghilangkan penyakit budaya. Penyakit budaya tersebut adalah etnosentrisme stereotip, prasangka, rasisme, diskriminasi, dan space goating. (Sutarno, 2007).
Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk menetapkan semua norma dan nilai budaya orang lain dengan standar budayanya sendiri. Stereotip adalah pemberian sifat tertentu terhadap seseorang berdasarkan kategori yang bersifat subjektif, hanya karena dia berasal dari kelompok yang berbeda. Prasangka adalah sikap emosi yang mengarah pada cara berpikri dan berpandangan secara negative dan tidak melihat fakta yang nyata ada. Rasisme bermakna anti terhadap ras lain atau ras tertentu di luar ras sendiri. Diskriminasi merupakan tindakan yang membeda-bedakan dan kurang bersahabat dari kelompok dominan terhadap kelompok subordinasinya. Space goating artinya pengkambinghitaman.
Solusi lain yang dapat dipertimbangkan untuk memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh negates dari keragaman adalah sebagai berikut :
a.       Semangat religious
b.      Semangat nasionalisme
c.       Semangat pluralisme
d.      Dialog antar umat beragama
e.       Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antaragama, media massa, dan harmonisasi dunia.

2.      Problem Kesetaraan serta Solusinya dalam Kehidupan

Prinsip kesetaraan atau kesederajatan mensyaratkan jaminan akan persamaan derajat, hak, dan kewajiban. Indicator kesederajatan adalah sebagai berikut :
a.       Adanya persamaan derajat dilihat dari agama, suku bangsa, ras, gender, dan golongan
b.      Adanya   persamaan hak dari segi pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang layak
c.       Adanya persamaan kewajiban sebagai hamba Tuhan, individu, dan anggota masyarakat.

Problem yang terjadi dalam kehidupan, umumnya adalah munculnya sikap dan perilaku untuk tidak mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban antarmanusia atau antarwarga. Perilaku yang membeda-bedakan orang disebut diskriminasi. Upaya untuk menekan dan menghapus praktik-praktik diskriminasi adalah melalui perlindungan dan penegakan HAM disetiap ranah kehidupan manusia. Seperti negara kita Indonesia yang berkomitmen untuk melindungi dan menegakkan hak asasi warga negara melalui Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.
Pada tataran operasional, upaya mewujudkan persamaan di depan hukum dan penghapusan diskriminasi rasial antara lain ditandai dengan penghapusan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) melalui keputusan Presiden No. 56 Tahun 1996 dan Instruksi Presiden No. 4 Tahun 1999. Disamping itu, ditetapkannya Imlek sebagai hari libur nasional menunjukkan perkembangan upaya penghapusan diskriminasi rasial telah berada pada arah yang tepat.
Rumah tangga juga merupakan wilayah potensial terjadinya perilaku diskriminatif. Untuk mencegah terjadinya perilaku diskriminatif dalam rumah tangga, antara lain telah ditetapkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Keragaman dalam masyarakat adalah sebuah keadaaan yang menunjukkan perbedaan yang cukup banyak macam atau jenisnya dalam masyarakat, Sedangkan kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk tuhan yang memiliki tingkatan atau kedudukan yang sama.
Keragaman atau kemajemukan dalam masyarakat selalu membawa perubahan dan perkembangan atau dinamika sehingga masyarakat menjadi dinamis. Kemajemukan dalam masyarakat dibedakan ke dalam dua hal yang saling berkaitan, yaitu: Kemajemukan Sosial dan Kemajemukan Budaya. Keragaman budaya sangat erat kaitannya dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani hidup semisalnya cara menjalani hidup, cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah sebagai ekspresi keyakinan kepada Tuhan, cara memandang dunia, masyarakat beserta kehidupan di dalamnya. Keragaman bangsa terutama karena adanya kemajemukan etnik, disebut juga suku bangsa atau suku. Beragamnya etnik di Indonesia menyebabkan banyak ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan pranata kebudayaan lainnya karena setiap etnis pada dasarnya menghasilkan kebudayaan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultur artinya memiliki banyak budaya. Pengakuan akan prinsip kesetaraan dan kesedarajatan itu secara yuridis diakui dan dijamin oleh negara melalui UUD’45. Warga negara tanpa dilihat perbedaan ras, suku, agama, dan budayanya diperlakukan sama dan memiliki kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan negara Indonesia mengakui adanya prinsip persamaan kedudukan warga negara. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam Pasal 27 ayat (1) UUD’45 bahwa “segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.
Keragaman dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat dan negara akan menimbulkan beberapa konflik atau pertentangan, yang secara umum terdiri dari dua fase, yaitu fase disharmoni dan fase disintegrasi. Disharmoni menunjuk pada adanya perbedaan pandangan tentang tujuan, nilai, norma, dan tindakan antarkelompok. Disintegrasi merupakan fase di mana sudah tidak dapat lagi disatukannya pandangan, nilai, norma, dan tindakan kelompok yang menyebabkan pertentangan antarkelompok. Ada beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan untuk memperkecil konflik-konflikyang muncul dari keragaman adalah sebagai berikut : Semangat religious, semangat nasionalisme, semangat pluralisme, dialog antar umat beragama, dan ,embangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antaragama, media massa, dan harmonisasi dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Giri Wiloso, Pamerdi, dkk. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Salatiga: Widya Sari

Poerwanto, Hari. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wahyono, Tries Edy. 2009. Pendidikan Multikultural. Malang : Surya Pena Gemilang.
Susanto. Astrid. 1985. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Binacipta