Aih... Aih...
Author: Abu Aufa*
Cinta, duuuh cinta...
Virus
cinta emang bisa bikin blingsatan dan jungkir balik gak karuan.
Uring-uringan, hingga makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Bahkan
dapat merubah pribadi seseorang, yang awalnya benci banget kata-kata
puitis nan manis, mendadak jadi pujangga yang pandai menebar janji tuk
memikat hati.
... Sambil bersimpuh dengan seikat bunga mawar
ditangan, sang pujangga pun merayu sang pujaan, "Duhai belahan hati, tak
dapat kuhidup tanpa dirimu di sisi."
Kadang ia bergaya bagaikan bintang film India, "Adinda..., belahlah dadaku ini, kan kau lihat ada dirimu di sana."
Sang gadis pun tersipu malu, hidung kembang-kempis dan jempol kaki jadi gede, "Idih... abang bisa aja nih."
Tak
peduli siang malam, yang dipikirkan hanya juwita sayang impian seorang.
Tak tahan dengan rayuan maut sang pujangga karbitan, si gadis pun
langsung jatuh cinta. Jiwa terbang ke awang-awang, bermain dengan
bintang gemintang.
Akhirnya, adik jadi milik abang seorang.
Cihuiii... nikah juga!!!
Pesta
tiga hari tiga malam pun diadakan, ngikutin tradisi bintang-bintang
sinetron atau anak orang-orang kaya. Meriah, dengan orkes dangdut setiap
malam yang memekakkan telinga, juga tak ketinggalan pemutaran layar
tancap di depan rumah.
Tamu-tamu begitu banyak yang datang, dan
tak henti-hentinya ucapan selamat dihaturkan, "Duuh neng, cantiknya...,"
seraya tangan mencubit gemes pengantin perempuan.
"Aduuh!" ternyata nyubitnya sakit juga, sambil ngedumel dalam hati, "Iih... luntur deh make-up, nih ibu reseh banget sih!"
Tapi
senyuman masih mengembang, memikirkan banyaknya amplop yang akan
diterima, dan kembali berbisik dalam hati, "Sudah tradisi...," menirukan
iklan produk biskuit di tivi.
Rasa puas serta bahagia terpancar
dari kedua pasangan, dan tentu saja keluarga besar. Bangga, bisa membuat
pesta gede-gedean karena katanya itu simbol kaum terhormat dan kaya
raya.
Rencana bulan madu pun tak lupa dipikirkan, "Bang, ntar kita bulan madu kemana?" tanya istri sambil bergelayut manja.
"Kemana aja boleh, terserah adikku sayang," sambil mencium pipi dengan mesra, muaaah! Maklum, pengantin baru.
"Huu... yang benar dong jawabnya," pura-pura merajuk.
"Kalo ke bulan, adik mau ikut?"
"Ikuuut...," sambil memegang erat tangan kekanda tercinta.
Aih... aih...
* * *
Cinta, duuuh cinta...
Di
awal pernikahan duhai sungguh indah, sayang-sayangan yang bikin mabuk
kepayang. Makan saling suap-suapan, di jalan pun tangan saling
bergandengan, hingga kadang membuat iri yang belum menemukan pasangan.
Tak lupa foto adinda yang sedang tersenyum dipajang di meja kerja,
dielus-elus saking cintanya, karena tak sabar ingin segera pulang ke
rumah.
Jam kerja kadang digunakan untuk telpon-telponan, "Lagi ngapain, honey?"
Karena masih pengantin baru, masih gede rasa cemburu.
"Hani? Siapa tuh Hani? Kan namaku bukan Hani, pacar baru lagi ya?"
Hiks... hiks... hiks...
Hah???
* * *
Waktu
berlalu, hari berganti hari hingga tahun berganti tahun. Layaknya
sebuah kehidupan, tentu ada pasang surut. Roda pun tak selalu di atas,
selalu ganti berputar. Begitu juga perjalanan bahtera rumah tangga anak
manusia, kadang manis tak jarang pula sebaliknya.
Gejolak cinta di
masa muda yang begitu bergelora untuk mendapatkan pasangan jiwa lalu
berganti dengan keluh kesah, hingga bosan pun meranggas cinta. Suami
yang dulu begitu mesra, perlahan mulai lupa dengan yang di rumah. Sang
istri kini lebih sering merenung sambil bersenandung lagu Kemesraan-nya
Franky Sahilatua, berharap kemesraan yang dulu janganlah cepat berlalu.
Istri
kadang sendirian, karena kekanda tercinta suka pulang larut malam.
Makan malam yang dihidangkan pun kini tak lagi disentuh, karena restoran
telah menjadi pilihan. Dilayani pelayan-pelayan yang berpenampilan
rapih, bagi sang suami lebih menyenangkan daripada disambut istri yang
wajahnya penuh dengan masker bengkoang dan celemek kucel penuh bau
masakan beraneka-ragam. Bahkan tak jarang kepala bermahkotakan rol
rambut aneka warna.
Ah... Rumah tangga kini tak lagi tampak mesra.
Suami yang dulunya selalu berjanji sehidup semati, kini lain di bibir,
lain di hati. Sindir menyindir sering jadi luka yang menyayat pedih.
* * *
"Neng...
manusia itu tak ada yang sempurna, semua pasti ada kekurangannya,"
nasehat Wak Haji di mushola kecil yang diapit rumah-rumah mewah di
kompleks perumahan tersebut.
"Suami istri saling cekcok atau bertengkar itu hal yang biasa," beliau kembali menambahkan.
"Wak Haji juga dong?" cepat memotong.
"Lha iya, emang saya bukan manusia?" Wak Haji menjawab sambil mesem-mesem.
"Lho, mestinya Wak Haji ngasih contoh yang baik, masak udah haji kok bertengkar?"
Lalu
kembali berkomentar, "Kalo Wak Haji yang udah tua gini masih juga suka
berantem, lha kita yang muda ini nyontohnya ke siapa? Wak Haji mikir
dong, mikir...!"
Wuaaah...!!!
"Aih... aih... Wak Haji gitu aja marah, terusin deh" senyum-senyum.
Sambil menahan gemes, Wak Haji pun melanjutkan, "Neng juga harus inspeksi diri sendiri..."
"Mungkin introspeksi ya Wak, maksudnya?" membenarkan.
"Oh iya, ya itu..., Neng juga harus intrupsi"
"Introspeksi Wak, bukan intrupsi!" kembali membenarkan, sembari menahan kesal.
"Aduuh... susah ya pakai istilah tingkat tinggi, apa tadi, inflasi?" Wak Haji bertanya kembali.
Wuaaah...!!!
"Aih... aih... Neng, gitu juga marah, he... he... he...," Wak Haji terkekeh-kekeh, girang banget bisa membalas.
"Tak
ada gading yang tak retak, demikian juga rumah tangga. Lautan masih
terlalu luas terbentang, ribuan karang siap menghadang, ombak pun kadang
menerjang. Karena itu semua persoalan tak hanya dapat dipecahkan dengan
cinta, tapi juga butuh sikap dewasa," nasehat Wak Haji.
Kembali beliau menambahkan,
"Untuk
bersikap dewasa harus ada yang namanya ujian. Nah..., jadikan ujian itu
sebagai pernik-pernik dalam pernikahan, ia akan menjadi indah saat
setiap pasangan menyikapinya dengan dewasa, bukan dengan amarah. Sikap
dewasa akan menyuburkan cinta, sehingga istri atau suami akan lebih
mengutamakan pasangannya. Misalnya nih contoh gampangnya, kadang si
istri lebih senang berdandan untuk orang lain daripada suaminya, atau
sebaliknya."
"Maksudnya Wak Haji?" bertanya, karena belum jelas.
"Iya, coba si Neng inspeksi, eh... apa tadi, inflasi?" sahut Wak Haji seraya membenarkan letak kopiahnya.
"Idih mulai lagi nih, introspeksi, Wak Haji" sambil menahan senyum.
"Eh
iya, si Neng coba introspeksi diri, apa iya kalo dandan di rumah juga
seperti ini? Padahal Islam menganjurkan kalo berdandan untuk suami di
rumah itu jauh lebih baik daripada untuk orang lain," nasehat Wak Haji
bagaikan air bening yang merembes di telaga hati.
Si Neng hanya
terdiam, membenarkan. Kemudian ia merenung betapa indah, bahkan teramat
indah Islam mengajarkan syariat kepada para pemeluk-Nya, hingga mengatur
hal-hal yang sangat sederhana. Ia tertunduk malu, karena terkadang
terlalu berlebihan berdandan untuk orang lain saat keluar rumah, padahal
yang lebih utama semestinya itu adalah hak kekanda, sang belahan jiwa.
* * *
Krek... Suara pintu dibuka, suami tercinta baru pulang kerja.
"Aih... aih..., mau kemana malam-malam begini?" tanya suami curiga, melihat istri yang berdandan begitu cantiknya.
Ia hanya diam, dan tersenyum manis sementara kekanda tercinta masih bengong, menatap tak percaya.
"Nggak kemana-mana, emangnya gak boleh tampil cantik di rumah?" jelas adinda sambil mengedipkan genit sebelah matanya.
"Kata
Wak Haji, istri itu harus melayani suami dengan baik, termasuk tampil
cantik saat ia ada di rumah," menirukan apa yang telah didengarnya di
mushola.
Suami terharu, aaah... ia memang telah tampil beda. Suami
pun sadar bahwa dirinya dan juwita tercinta memang sudah beranjak jauh
dari masa-masa muda yang penuh gelora, tapi kekuatan cinta akan selalu
menjadikan seseorang berusaha memberikan yang terbaik kepada yang
dicintainya. Sang pujangga lalu berjanji dalam hati, untuk selalu
menjadi pujangga cinta bagi adinda, sang belahan jiwa.
"Abang...," istri berkata perlahan.
Dalam
hati sudah mengira, pasti adinda akan meminta maaf atas segala
kekhilafan yang dilakukannya, sehingga dengan cepat ia berkata,
"Sudahlah dek, abang juga salah, suka mengabaikan tanggung jawab di rumah," terharu, mata tambah berkaca-kaca.
"Aih...
aih..., emangnya saya mau ngomong apa," gerutunya dengan manja, "Cuma
mau nanya, kan udah awal bulan, uang gajiannya mana?"
Hah???
WaLlahua'lam bi shawab.
*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA* Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,